Tuesday, March 1, 2011

Berat Mengungkapkannya

Heyhoooo. Udah lama banget ya aku gk posting. Ya (lagi-lagi) karena sekolah. Aku selalu banyak tugas, sekalipun gak ada yaa paling cuma sehari dua hari doang. Selain itu dari sebulan terakhir, sekolahku ngadain SOG. Jadi aku sering pulang sore, karna musti nonton dan dukung anak kelasku main (walaupun sejauh ini kalah terus). Aku juga banyak ulangan, ini sih selalu. Penat sih sebenernya. Tapi kalo gak ada tugas bingung juga mau ngapain.

Ok, aku mau cerita tentang dua pelajaran yang sangat sangat bikin aku stress ( ini serius ). Bahkan sekarang aku males buat nulis nama pelajarannya -.- sebut saja pelajaran X dan pelajaran Y. Di dua pelajaran ini aku musti remedial. Wow.

Pelajaran Y. Ini memang pelajaran sulit. Tapi lebh sulit lagi saat aku mendengar bahwa aku satu-satunya murid di kelas yang harus mengulang. Aku langsung menangis mendengarnya. Seolah-olah aku adalah orang yang paling bego sekelas.Oops, atau bukan seolah-olah? Berat menerima keadaan seperti itu. Aku yakin, namaku akan tersebar dengan gelar ’satu-satunya murid remedial di kelas xi ipa 4’. Demi apapun, aku bahkan sudah belajar maksimal. Dan aku mengerjakan semuanya sendiri. Pure, sendiri. Dan apa itu salah? Aku duduk paling depan di kelas. Sebegitu telmi kah aku ya Allah? Meskipun sahabat dan teman-temanku terus menyemangati, tak ada gunanya. Semua udah terjadi. Aku memang gak seperti kalian.

Pelajaran X. Dulu, aku gak benci kayak gini sama pelajaran X. Aku gak sedendam dan seemosi gini setiap ngeliat guru yang ngajar pelajaran X. Tapi semenjak aku dinobatkan menjadi salah satu murid yang harus ikut ulangan ulang (baca : remedial) semua berubah. Mendengar pengumuman itu, aku spontan menangis detik itu juga di kelas. Gak perduli gimana keadaan kelas waktu itu. Terlebih aku bahkan harus mengulangnya 2 kali (berat banget bilangnya). Sebegitu bego kah aku? Sebegitu gak bisanyakah aku? Sampe aku harus ngulang dua kali. Hey? Setiap ada orang yang membahas pelajaran itu, emosiku meluap. Aku bahkan akan memarahi mereka. Labil. Entah kenapa aku begitu sensitif mendengarnya. Tidak hanya pada pelajarannya saja, dengan pengajarnya pun begitu. Aku selalu emosi setiap berpapasan dengan beliau. Dan kata-kata yang di lontarkan pada saat pelajaran seolah-olah ditujukan kepadaku (atau bukan seolah-olah?). Beliau sering berkata ”Gak usah rapi-rapi lah nyatatnya, gak usah rajin-rajin juga kalo ujung-ujungnya remedial”. Salah ya kalau aku masih mau nyatat? Salah kalau aku mau rajin? Salah? Dan kalau gak salah, dulu waktu semester satu beliau pernah mengatakan itu padaku namun dengan ekspresi bercanda. Mungkin kata-kata itu tidak terlalu berpengaruh kepada teman-teman kelasku, namun aku? Sangat amat mengena. Aku gak tau apa itu ditujukan padaku atau bukan. Tapi terlepas dari itu, aku tersinggung. Seolah-olah usaha ku bakal sia-sia. Jujur, kata-kata yang sering beliau lontarkan benar-benar membuat aku putus asa :’(

Semenjak kejadian itu, aku mudah putus asa. Aku mudah tersinggung. Apalagi dengan kata-kata yang di lontarkan guruku, walaupun tidak tau siapa tujuannya. Aku tau aku gak mampu, tapi bukan itu kalimat yang aku mau dengar. Bukan itu.

By the way, thank you banget buat yang udah ngemangatin aku. Khususnya buat Adel :’)

4 comments:

  1. Ada nama akuuuuuuu houwwooooo haha
    Sama2 my best :*
    Inget an, remedial bukan akhir dari segalanya!

    Adel

    ReplyDelete
  2. hahaha iya ada nama ko ya, kok bisa ya?
    inget doang mah gampang, nerimanya susah -.-

    ReplyDelete
  3. sabar ya.. saya tahu itu siapa guru X.hhe.
    catatanmu malah bagus..

    ReplyDelete
  4. Thank you, Rifqi :) hehe
    makasih makasih :P

    ReplyDelete

 

blogger templates | Make Money Online